SELAMAT DATANG DI PONDOK PESANTREN PUTRI AL-AMANAH 5 KUDUS, PONDOK DENGAN BASIS KEILMUAN AL-QUR'AN

Pengasuh Al-Amanah Kudus Tampil dalam Penelitian Internasional MoRA The AIR Funds 2026



KUDUS – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan putra daerah Kabupaten Kudus. Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amanah Kudus sekaligus dosen UIN Sunan Kudus, Moh. Anwar Yasfin, M.Pd., berhasil menjadi bagian dari tim peneliti penerima pendanaan bergengsi MoRA The AIR Funds Program 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

Dalam program riset tingkat internasional tersebut, Moh. Anwar Yasfin tergabung dalam tim yang diketuai oleh Dr. Mubasyaroh, M.Ag. bersama Primi Rohimi, S.Sos., M.S.I. Tim peneliti mengusung proposal penelitian berjudul “Sustainable Sacred Sites: Menyeimbangkan Iman, Budaya, Komunikasi Keagamaan, dan Harmoni Sosial di Situs Suci Islam di Asia.” Penelitian ini berfokus pada pengembangan model pengelolaan situs suci Islam yang berkelanjutan di kawasan Asia dengan mengintegrasikan nilai keimanan, budaya, komunikasi keagamaan, dan harmoni sosial. 

Penelitian tersebut akan dilaksanakan di tiga negara, yaitu Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Melalui pendekatan multidisipliner, tim peneliti akan mengkaji berbagai situs suci Islam yang memiliki nilai historis, spiritual, dan sosial bagi masyarakat Muslim di Asia. 

Tim peneliti telah melakukan berbagai penggalian data lapangan di sejumlah situs religi penting di Jawa Tengah. Hingga pertengahan tahun 2026, data penelitian yang diperoleh dari Yayasan Masjid, Menara dan Makam Sunan Kudus, Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria, Yayasan Sunan Kalijaga Kadilangu Demak, Pengelola Masjid Agung Demak, serta Pengurus Mabarot Sunan Bonang Tuban telah memasuki tahap finalisasi menjadi artikel ilmiah internasional.

Artikel tersebut direncanakan akan dipresentasikan dalam forum akademik internasional di Sophia University, Tokyo, Jepang, pada 28 Juli 2026 mendatang. Kehadiran tim peneliti dari UIN Sunan Kudus dalam forum tersebut menjadi bukti bahwa hasil kajian mengenai situs-situs suci Islam di kawasan Pantura Jawa memiliki relevansi dan daya tarik bagi komunitas akademik global.

Moh. Anwar Yasfin menyampaikan bahwa capaian ini merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, mulai dari akademisi, pengelola situs religi, tokoh masyarakat, hingga lembaga keagamaan yang selama ini menjaga dan melestarikan warisan Islam Nusantara. "Kami bersyukur penelitian yang berangkat dari kekayaan tradisi Islam dan budaya lokal di Kudus, Demak, hingga Tuban dapat memperoleh perhatian di tingkat internasional. Semoga hasil riset ini tidak hanya bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memberikan rekomendasi nyata bagi pengelolaan situs-situs suci Islam yang berkelanjutan di Asia," ujarnya.

Penelitian ini ditargetkan menghasilkan model pengelolaan situs suci Islam yang dapat diterapkan secara luas, publikasi pada jurnal bereputasi internasional, serta buku akademik mengenai pengelolaan situs suci berkelanjutan di Asia. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia, khususnya Kudus sebagai Kota Santri, sebagai salah satu pusat kajian wisata religi dan komunikasi keagamaan di tingkat internasional. 

Keberhasilan ini sekaligus menjadi bukti bahwa pesantren tidak hanya berkontribusi dalam bidang pendidikan dan dakwah, tetapi juga mampu melahirkan karya-karya riset yang diakui dunia. Dari Kota Kudus, semangat keilmuan pesantren kini turut mewarnai percakapan akademik global dan membawa nama Indonesia ke panggung Asia. (*)


0 Komentar